|

Sabtu pagi 5.06am telpon berdering, sayup2 terdengar mengusik tidur yg sangat nyenyak. Gw kira alarm lantaran gw sengaja pasang ringtone buat alarm sama dengan ringtone phone call. Ternyata bung kevin dgn sigapnya membangunkan pasukan2 partisipan acara wisata MUDIKA ini (well janjinya sih bangunin jam 4.30am, gw rasa dia ga bangun juga hehehe)
Anyway, to cut long story short, kami berhasil meluncur ke QV pkl 5.30 am dari rumah. Jadwal bis extragreen brgkt dari QV 5.45 alhasil ngebut lah kita sambil sarapan quickie express (curry puff + redbull.. Cieeeh). Kami tiba +/- pkl 5.50 di meeting point keberangkatan bus dan expectedly, bus blm kumplit penumpangnya. :p Tapi tidak lama kami menunggu sisa penumpang yang mayoritas bermata sipit itu, lepas landas lah sang bus greyline code: 'e' charteran-nya extragreen pkl 6.00 dari cnr of lonsdale dan swanston st. Jayce sang pemandu wisata lgsg memberikan bbrp petuah dan memastikan kembali tidak ada penumpang yg tertinggal. Tujuan wisata kali ini adalah : MT BULLER, the town of snow for the ski lovers!!
Perjalanan memakan waktu kurang lebih 3.5 jam, dan singgahan pertama kami adalah kota mansfield, dimana mt buller corp. mengelola warehouse tpt peminjaman pernak-pernik ski. Sebagian besar dari kami meminjam ski, poles, jaket, pants dan ski boots, tapi ada juga yg memutuskan hanya meminjam snow boots lantaran alasan kesehatan, baik fisik maupun dompet (pissss to evan!)
Kurang lebih 45 menit kami bersibuk ria ukur kaki dan memastikan semua perlengkapan sudah memadai, lanjutlah kami dgn perjalanan menuju horsehill chair yg mana adalah drop point pertama bagi para ski lovers.
Ski lesson bagi para pemula sudah disiapkan dan kick-off time adalah 11am. Maka sebagian dari kami pun bergegas mengenakan perlengkapan2 yg selayaknya disandang dan alhamduleluya, kami tidak terlambat untuk memulai ski lesson tersebut.
Tantangan pertama dimulai dengan menuruni anak2 tangga menuju lift pertama, bayangkan berjalan dengan tambahan beban 2kg di kedua kaki anda, tumit dan pergelangan kaki tidak bisa digerakan dengan leluasa, turun tangga pula. Wah, lumayanlah untuk pemanasan luar dalam.
Pemandangan pepohonan yang masih terlihat hijau dan tanah2 yg sudah diselimuti salju mulai menghiasi indera penglihatan kami ketika kami berada di atas lift yg hanya dalam bbrp kedipan mata saja membawa kami ke arena lapangan ski dan bukit2 yg terbungkus salju putih dan tidak terlihat ujungnya. Sudah ramai juga arena itu dengan para pengunjung yg sudah berseliweran dengan ski2 ataupun snow board mereka, tapi para instruktur ski lesson cukup memberikan arah2an yg jelas untuk dimana kami berkumpul.
Bagi teman2 yg sudah cukup piawai mengemudikan ski mereka, tentu saja tidak perlu untuk mengikuti lesson ini, mereka pun langsung menikmati landasan2 putih yg tidak terlalu curam itu untuk memanaskan peralatan2 mereka (tentu saja tak kunjung panas lantasan suhu menunjukkan 0 derajat celcius pada saat kami tiba :p). Atau bagi mereka yg ada alasan kesehatan tadi, mereka tentu lgsg berjalan2 menikmati dan mempelajari mengapa pohon2 tetap hijau ataupun berusaha mengukur seberapa tebal lapisan2 salju tersebut, alhasil mereka harus bolak balik naik lift :p (pisss again to evan)
Kembali ke ski lesson kami, instruktur kami yg bernama brian mengaku sudah hidup mati selama 30 tahun terakhir bermain ski. Dengan gaya yg cukup sarcastic dia memulai pelajaran dgn menjelaskan mengapa bootnya begitu berat yg adalah hasil dari lapisan2 acrylic yang melindungi kaki dari betis hingga ujung kaki agar tidak mudah cidera, terutama bagian mata kaki yg sangat terlindungi dengan design ski boots yg sangat kokoh. Pelajaran dilanjutkan dengan cara memasang boot ke papan ski yg panjangnya kira2 setinggi bahu penggunanya. Dia mengajak kami untuk mencoba menggerakan kaki ke pelbagai arah dan terus menekankan untuk tidak melihat ke arah ski atau kaki agar kami bisa merasakan peralatan2 itu hingga terasa kesatuannya dengan kaki kami. Setelah sudah cukup kami bisa menguasai gerakan2 kaki yg tentunya tidak terasa lazim itu, kami mulai diajak meluncur dengan satu kaki (ski hanya dipasang di satu kaki untuk memulai pelajaran) di permukaan yg cukup landai dan dalam arah melingkar. Tentunya kami menggunakan poles2 yg fungsinya untuk menjaga keseimbangan tubuh dan alat bantu dorong untuk meluncur dari satu titik ke titik lain. Latihan ini dilakukan juga dengan kaki yg satunya (kiri.red).
Setelah brian melihat sebagian besar dari peserta ski lesson (11 org total.red) sudah bisa bergerak meskipun masih terbata2, maka dia mengajak kami untuk meluncur dari satu titik yg sedikit lebih tinggi ke titik lain yg lebih rendah. Gerakan dilakukan dengan mengarahkan ujung depan ski ke arah titik tujuan dan terus menekankan JANGAN MELIHAT KE BAWAH atau KE ARAH SKI BOARD. Tidak lupa juga dia mengajarkan teknik berhenti atau untuk mengurangi kecepatan dengan memanfaatkan daya gesek ski board dengan landasan, teknik ini pada dasarnya dilakukan dengan menarik kedua lutut ke arah dalam, sehingga postur kaki membentuk huruf Y terbalik, ingat paha tetap rapat! :p teknik ini niscaya mendorong tumit ke arah luar, menekan sisi dalam ski board ke dalam salju yang menghasilkan daya gesek untuk mengurangi kecepatan. Semakin lebar tumit terbuka, semakin besar daya geseknya hingga akhirnya berhenti. Alhasil, teknik ini membuat ujung ski bertemu sehingga membentuk huruf V terbalik. Ini adalah teknik berhenti / mengurangi kecepatan bagi pemula yg dikenal dgn nama SNOW PLOW.
Kurang lebih 20 menit kami berusaha untuk menguasai teknik tersebut, brian juga menjelaskan untuk tidak takut jatuh, karena ski boots connection sudah di-design sedemekian sehingga bila jatuhnya cukup heboh maka boot akan terlepas dari skinya agar kaki bagian atas (lutut dan daerah pangkal paha) yg tidak terlindungi dengan support material tidak terkilir! Tapi tentu saja benturan pantat dan landasan salju tidak mudah dihindari :p
Akhirnya setelah kami menguasai teknik snow plow dan teknik jatuh :p, brian mengajak kami ke landasan latihan yg kira2 mulai dgn kecuraman 15 derajat dan meningkat ke kira2 20 derajat di tengah dan kembali ke 0 derajat di ujungnya, landasan berukuran kurang lebih 200 meter dari titik start hingga akhir. Di sisi sebelah kiri sudah tersedia tambang tebal yg digerakan oleh motor untuk menarik para pemula kembali ke titik awal. Tentu saja pengalaman pertama kami ini dihiasi banyak perkenalan dengan bbrp posisi jatuh, tapi karena ada teknik snow plow di atas tentu kami bisa mengurangi frekuensi jatuh dengan mengurangi kecepatan dan akhirnya berhenti.
Sebagian besar dari kami berhasil melakukan 2 - 3 run untuk landasan ini, dan maka dengan habisnya waktu 2jam itu, ski lesson kami berakhir disana.
Waktu menunjukkan pukul 13.05, kami yg sudah cukup excited dgn ilmu2 dasar ini, segera bergabung dengan teman2 yg sudah berpengalaman lebih. Setelah mengistirahatkan kaki sebentar, kegiatan kami lanjutkan dengan satu level yg lebih tinggi. SPUR RUN judulnya dan landasan ini kurang lebih berkecuraman 30 derajat dan panjangnya 2 kali lipat. Wah senang rasanya bisa meluncur sejauh 400 meter, meskipun sempat terguling 2 kali di tengah jalan, tapi rasanya sukses, karena apa yg kami pelajari bisa pelan2 diterapkan.
Dengan semangat tinggi dan penuh dengan rada penasaran, kami cepat2 melahap sausage and bread + few drinks, karena tantangan berikutnya adalah landasan yg nampaknya sedikit lebih curam dan panjangnya kurang lebih 2.5 kali spur run. Aaah, paling jatuh 5 - 6 kali dan kami bisa merasakan nikmatnya ber-ski!!
Dengan penuh percaya diri, kami pun meluncur, syuuuuuurrr, brak!!! Tidak sampai 3 detik sudah terbaringlah kami di atas salju curam. Senangnya, teman2 lain yg sudah ada pengalaman terus memberikan semangat dan terus menekankan teknik snow plow, alhasil kami terus berusaha dan berbagi posisi jatuh pun kami nikmati di landasan ini, jatuh pantat kiri, pantat kanan, terlentang, terlungkup, miring kanan, miring kiri, serong depan, serong belakangn bahkan jatuh plus tabrak pohon pun sempat kami rasakan. Yang normalnya run ini bisa dilampaui dalam waktu 2 menit rata2 dari atas ke bawah, dengan suksesnya kami lampaui dalam waktu 1.5 jam saja. Aaaaaagh, tetap senang rasanya meski pantat dan kaki sudah tidak jelas dimana sakitnya. Sambil sedikit meringis, kami duduk di atas lift kembali menikmati putih salju dan membawa kenangan indah jatuh di atas salju :p.
Itu adalah akhir dari pengalaman snow trip mudika kali ini, karena jayce sudah wanti2 jgn telat kembali ke bus 3.45pm karena pilihan lain kalau ketinggalan bus adalah camping di tengah salju atau bayar taxi $500.
Matahari sudah terlelap dalam perjalanan kami pulang, dan semua penumpang mata sipit ini pun ikut terlelap. Don't miss the next mudika snow trip ok! You cannot fall on the snow if you stay only in melbourne city.
Salam snow plow,
Mudikanz Ski lover wannbe
|